My story

Vokal

Panas terik siang ini membuatku sangat lelah,mungkin bukan aku saja yang merasakan hal itu tetapi juga teman-temanku yang masih berada di tengah lapangan.Siang ini aku sedang latihan baris-berbaris untuk persiapan Lomba Keterampilan Baris-berbaris,setiap hari sepulang sekolah pasti selalu begini.

“Perhatian! Untuk seluruhnya hitungan sepuluh harus sudah berbaris di lapangan. Satu,dua,tiga,.....” Pelatih mengintruksikan kepada kami semua untuk berbaris kembali.
Semuanya berlari menuju lapangan tanpa bersuara sedikitpun dan masing-masing  langsung mengambil posisi untuk berbaris.Kemal yang berada di posisi paling kanan langsung menyiapkan pasukan.

Kak Ganda selaku pelatih angkat bicara ,“Selamat siang,semua.Masih semangat?”
“Siap masih.” Ucap kami serentak.
“Baiklah langsung saja,berhubung lomba sudah semakin dekat saya akan memecah kalian menjadi dua pasukan.Yang saya tunjuk harap membuat barisan di sebelah kanan.Ya,kamu,kamu yang dibelakang,...”Kak Ganda terus menunjuk satu per satu diantara kami.
“Selesai,pasukan paling kanan adalah pasukan A dan pasukan paling kiri adalah pasukan B.Pasukan A akan dipimpin oleh Ardi dan pasukan B akan dipimpin oleh Atisya.Jelas? jika sudah jelas silakan kembali latihan.”Jelas Kak Ganda.
“Siap jelas.” Jawab kami serentak.
Apa? Atisya? Aku tidak salah dengar,kan? Namaku disebut untuk menjadi pemimpin pasukan B.Aku masih tidak percaya,kenapa harus aku? Kak Ganda memberikan alasannya memilih aku untuk memimpin pasukan B dan aku langsung mengangguk,walaupun sebenarnya masih bimbang antara sanggup atau tidak.Masalahnya ini untuk lomba dan ditonton oleh peserta lain dari sekolah yang berbeda.
***
Tidak terasa latihan sudah berlangsung 3 minggu,persiapan sudah 80% dan tibalah saat dimana kami semua akan diberikan pembinaan fisik juga mental.Mendengarnya saja sudah membuat aku membayangkan akan dimarah-marahi,tapi bayangan pikiranku itu seketika hilang ketika Lasti berkata dia siap untuk menampung kami di rumahnya.Ya,pasti jika malam pembinaan itu di rumah Lasti tidak akan ada hal yang aneh-aneh.

Malam pertama di rumah Lasti kami berbincang-bincang sambil tertawa untuk menenangkan pikiran.Ketika kami sedang asyik berbincang datang Kak Ganda dan memberitahu bahwa akan diadakan latihan jam 20.00 di lapangan depan balai desa dekat rumah Lasti.Kami semua mengiyakan dan langsung mempersiapkan diri masing-masing.

Ketika kami sudah baris di lapangan suasana menjadi aneh dan menegangkan. Muka Kak Ganda dan pelatih lainnya sangat menakutkan,tatapannya tajam seperti hendak menerkam kami.Aku melihat raut wajah yang tegang dari teman-temanku.Benar saja berdirinya kami disini adalah untuk diberi bimbingan mental,kesalahan-kesalahan kami terus dicari terutama kesalahan pemimpin.Tapi beruntungnya aku disini tidak terlalu disalahkan sebagai pemimpin.
Setelah selesai bimbingan mental yang membuat kami terlihat selalu salah dimata pelatih,kami kembali ke rumah Lasti pada jam 22.30 untuk istirahat.

Aku merasa kurang fit malam ini dan suaraku terdengar seperti kodok sepulang dari lapangan tadi.Tidur adalah pilihanku saat ini dan berharap bisa pulih kembali.Mungkin baru 30 menit tertidur,aku sudah dibangunkan oleh Kak Ganda.
“Tisya,bangun!Ayo bangun! Hitungan satu,dua,ti...” Suara Kak Ganda benar-benar mengejutkanku.
“Iya,siap kak.Ada apa?” kataku dengan wajah yang kaget dan melihat kiri kanan mendapati beberapa temanku yang masih terjaga sedang melihatku sambil menahan tawa.
“Sekarang kamu latihan vokal.”ucap Kak Ganda.
“Latihan vokal dimana,Kak? Larut malam begini?”tanyaku
“Jangan protes! Kamu sebagai pempimpin pasukan B bersama Ardi sebagai pemimpin pasukan A akan latihan vokal di kuburan depan jalan sana.Tau kan?”jelas Kak Ganda.
Aku tertunduk dengan tatapan menerawang “Kak Ganda kenapa jadi kejam begini sih? Yang benar saja latihan vokal di kuburan malam Jum’at pula.Memangnya makhluk lain disana tidak akan terganggu dengan kebisingan suara kami?”batinku kesal.
“Ardi sudah siap,sekarang kamu siap-siap.Kakak tunggu di luar.”Kak ganda memberi waktu untukku dan langsung melangkah pergi.
“Ya ampun waktunya istirahat,kak.Kasian Atisya jadi melamun gitu.”Sari yang menyimak perkataan Kak Ganda pun ikut bicara.
Sari berjalan menghampiriku sambil memegang pundakku berkata, “Udah ikutin aja,lagian kamu latihan vokal juga tidak sendiri.Ada Ardi dan juga Kak Ganda.Semangat Tisya.”

Ketika sedang bersiap masih terngiang di telingaku tentang latihan vokal di kuburan itu.Ada rasa takut dalam diriku,hal itu membuat aku stress.Sangat stress.
Selesai bersiap aku melangkahkan satu-dua langkah lalu badanku menjadi panas dingin tidak karuan.Apa karena terlalu memikirkan hal tersebut? Jawabannya bisa iya.
Lasti yang baru saja keluar dari kamarnya berpapasan denganku dan memperhatikanku dari atas hingga bawah.
“Atisya,kamu baik-baik aja? Muka kamu terlihat sangat pucat terus kenapa kakimu gemetar begitu?” tanya Lasti cemas.
“Hm,sedikit kurang sehat.Aku mau pergi latihan vokal di kuburan depan jalan.Entahlah Kak Ganda ada-ada saja, katanya supaya aku tidak grogi di lapangan lomba nanti.”kataku sambil sedikit tersenyum.
“Udah jangan ikut latihan vokal,istirahat aja.Aku bilang ke pelatih ya?”Lasti memberikan saran padaku lalu beranjak dariku menghampiri Kak Ganda.
Pelatih pun menghampiriku lalu menanyakan apa yang terjadi padaku,setelah aku menjawab akhirnya aku tidak perlu ikut latihan vokal malam ini tetapi harus ikut di malam selanjutnya.Aku kembali istirahat dan menjadi perhatian bagi teman-teman yang masih terjaga,mereka sangat peduli denganku termasuk orang tua Lasti yang ikut perhatian padaku.
***
 
   Ayam berkokok seakan ingin membangunkanku dari lelapnya tidurku. Pagi ini aku sudah merasa lebih fit. Agenda hari ini adalah mempersiapkan peralatan apa saja yang akan dipakai untuk lomba. Kami sangat semangat hari ini hingga Kak Ganda berkata bahwa dia senang melihat anak didiknya bersemangat seperti itu.
Pagi berubah siang,siang yang menjadi semakin panas mulai meredup menjadi sore. Hingga sore banyak sekali kebersamaan yang kami lalui,canda tawa yang tiada bosannya mengisi waktu sore menjelang malam.

Bertemu dengan malam kembali,malam ini tidak beda jauh dari malam kemarin bedanya kemarin itu bimbingan mental dan malam ini akan ada latihan geladi kotor.Akan ada penilaian antara pasukan A dengan pasukan B tujuannya untuk meningkatkan semangat kompetisi.
Hentakan kaki yang serentak dan kesalahan yang sudah mulai berkurang membuat semangat pasukanku menggebu-gebu untuk segera berkompetisi dengan sekolah lain.Mereka sangat siap menghadapinya.

Aku masih punya tugas yang belum terselesaikan yaitu tugas latihan vokal.Baiklah aku mencoba mengiyakan perintah Kak Ganda.Malam ini aku pergi,angin malam sangat menusuk tulang membuat aku gemetar kembali bisa karena kedinginan atau karena ketakutan.

Mencekam itu yang aku rasakan ketika aku turun dari motor dan langsung menghadap ke arah kuburan,aku segera membalikkan badan dan berharap tidak ada apa-apa disini.Lolongan anjing terdengar,suasana menjadi seram dan menakutkan.Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain tertunduk diam mengucap doa.Jantungku berdebar tidak keruan ditambah hanya ada aku dan Kak Ganda disini.
”Kenapa diam? Takut? Cepat latihan layaknya kamu memimpin pasukanmu.Pemimpin pasukan yang latihan vokal di kuburan biasanya langsung juara.”Kak Ganda memecahkan suasana.
“Eng... Lak..laksanakan.” Jawabku terputus-putus.
Aba-aba pertama terdengar jelas menggema.Aku mengatur nafas,tarik nafas-keluarkan,tarik nafas-keluakan karena pelatih mengatakan jika salah mengambil teknik suaraku akan habis.
Tugasku selesai untuk latihan vokal yang membuat bulu kuduk berdiri,sekarang waktunya pulang dan bersiap untuk esok mengikuti lomba.


Komentar

  1. Andaikan itu aku, pasti auto nolak ga mau jadi pemimpin wkwk. Good!πŸ˜‚πŸ˜Š

    BalasHapus
  2. Lanjutkan nisπŸ€— Good luck

    BalasHapus
  3. Itulah mengapa aku takut ikut yg kaya gitu gituπŸ˜‚
    Btw, itu Ka Ganda siapa ya?πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya memang kenyataannya seperti itu. Berani gak berani harus berani. Entahlah malam itu,mungkin ada yg ikut baris. HahaπŸ˜‚

      Hapus
  4. ceritanya bagus dan menarikπŸ‘

    BalasHapus
  5. Bagus anis :) ngeri juga latihan di kuburan

    BalasHapus
  6. Mantap captain πŸ‘
    Pengalaman pribadi akan selalu di hati. πŸ’“

    BalasHapus
  7. Mantap captain πŸ‘
    Pengalaman pribadi akan selalu di hati. πŸ’“

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Editorial

Essay